ABU HURAIRAH
Taukah kamu dengan Abu Hurairah? Simak hadits berikut: Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, dari Nabi Salallahu’alaihi wa salam, beliau bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai utang itu di lunasi” (HR. Turmudzi)
Sahabat yang satu ini tentunya sudah tak asing lagi di telinga kaum muslimin. Dari beliaulah, Imam Bukhari dan Imam Muslim masyur sebagai periwayat hadits.
Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dilahirkan 19 tahun sebelum Hijriah. Beliau berasal dari kabilah al-Dusi di Yaman. Nama beliau yang sebenarnya adalah Abd as-Syams ketika beliau belum memeluk islam. Setelah memeluk islam pada tahun 7 Hijriah katika Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam berangkat ke Khaibar. Orang yang berjasa memperkenalkan dirinya dengan islam ialah Thufail bin Amr ad-Dausy. Dialah perantara yang saat itu menjadi utusan kaum-nya menemui Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam di Madinah.
Dalam satu riwayat di sebutkan, “Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam bertanya kepada Abu Hurairah, “Siapa nama anda?” “Abdu Syamsi (Hamba Matahari)!” jawab Abu Hurairah singkat. “Bukannya Abdu Rahman (Hamba Allah)?” Tanya Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam. “Demi Tuhan! Benar, Abdu Rahman, ya Rasulullah!” jawab Abu Hurairah menyetujui.
Sedang gelar Abu Hurairah sendiri disematkan kepadanya lantaran beliau gemar sekali bermain-main dengan anak kucing (Hurairah = kucing) yang dimulai sejak beliau masih kecil. Dalam satu riwayat pun dikisahkan bahwa pada suatu masa ketika Abu Hurairah bertemu dengan Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, beliau ditanya “Apa yang ada di dalam lengan baju mu?” beliau langsung mengeluarkan anak kucing dari lengan bajunya. Sejak saat itulah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam menggelarinya ‘Abu Hurairah’.
Setelah bertemu dengan Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, Abu Hurairah memutuskan untuk berkhidmat dan menemani beliau. Karena itulah ia tinggal di masjid, dimana Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam mengajar dan menjadi imam-nya. Selama Rasulullah masih hidup, Abu Hurairah tidak menikah dan tentu saja beliau tidak mempunyai anak.
Akan tetapi, dia mempunyai ibu yang sudah lanjut usia dan masih syirik. Abu Hurairah tidak henti-hentinya mengajak ibunya masuk islam. Namun ibunya tetap menolak bahkan menghina Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, karena itulah Abu Hurairah meninggalkan ibunya dengan sangat berat hati.
Lalu Abu Hurairah pergi menemui Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam sambil menangis tersedu-sedu dan menceritakannya kepada Rasulullah. Rasulullah mendoakan.
Pada suatu hari ketika pulang ke rumahnya, Abu Hurairah mendapati pintunya dalam keadaan tertutup. Di dalam terdengar bunyi gemericik air. Tatkala hendak masuk terdengar ibunya berseru, “Tunggu di tempatmu, hai Abu Hurairah!”.
Agaknya ibunya sedang berpakaian. Tak lama kemudian, “Masuklah!” Kata Ibunya. Abu Hurairah melangkah masuk. Ibunya berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya”. Subhanallah. Abu Hurairah pun kembali kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam sambil menagis karena bahagia dan menceritakannya kepada Rasulullah.
Abu Hurairah begitu mencintai Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam. Banyak hadits yang mencatat perihal kecintaan Abu hurairah atas Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam. Antara lain, ketika Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam pulang dari perang Khaibar dan beliau hendak memperluas bangunan Masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tujuh tiang lagi, Abu Hurairah turut terlibat dalam penggubahannya. Ketika dilihatnya Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam menolak seraya bersabda, “Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat”.
Begitu cintanya Abu Hurairah kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam sehingga siapapun yang dicintainya, dia ikut mencintainya. Misalnya ia suka mencium Hasan dan Husain karena melihat Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam mencium kedua cucunya itu.
Abu Hurairah juga sangat mencintai ilmu. Tak aneh bila ilmu menjadi kegiatan dan pucak cita-citanya. Atas do’a Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam jugalah, ingatan dan hafalan Abu Hurairah begitu kuat. Sebab pada mulanya, ia mempunyai ingatan yang lemah dan ia pun mengadu kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, lalu beliau pun pun kemudian mendoakan agar Abu Hurairah diberkati dengan daya ingat yang kuat. Semenjak hari itu, Abu Hurairah dikaruniakan dengan daya ingat yang memperbolehkan beliau meriwayatkan hadits terbanyak di kalangan para sahabat. Sebagaimana cintanya kepada ilmu untuk dirinya sendiri, begitu juga ia mencintai ilmu untuk orang lain.
Pada mulanya hidup Abu Hurairah menderita. Kadang-kadang dia terpaksa absen menghadiri majlis taklim Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, karena lapar dan kesulitan hidup yang tidak dialami orang lain.
Abu Hurairah pindah ke Madinah, selain ingin dekat Nabi, juga untuk mengadu nasib. Di negeri ini ia bekerja sebagai buruh kasar bagi siapa saja yang memerlukannya. Seringkali ia mengikatkan batu di perutnya karena amat sangat lapar.
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama ini seadil-adilnya, sehingga Abu Hurairah berhasil menjadi seorang imam (pemimpin). Abu Hurairah pernah menjadi walikota Madinah lebih dari satu kali. Dia diangkat menjadi walikota oleh khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Kelembutan dan keluwesan pemerintahannya tidak ada yang menandingi.
Siang hari Abu Hurairah puasa dan malam beliau menyibukkan dengan ibadah. Ia membagi waktu menjadi tiga bagian. Pertama, untuk membaca Al-Qur’an. Kedua, untuk tidur. Dan, ketiga, untuk mengulang-ulang hadits yang telah dihafalnya.
Sepanjang hidupnya, Abu Hurairah senantiasa bersikap dan berbuat baik terhadap ibunya. Bila dia hendak keluar rumah, dia berdiri lebih dahulu di muka pintu kamar ibunya untuk mengucapkan salam.
Abu hurairah meninggal dengan tenang di Madinah pada tahun 57 atau 58 H (676-678 M). Usianya waktu itu 78 tahun. Dia telah menghafal tidak kurang dari 1609 hadits. Ada pula yang mengatakan 5374 hadits.
Diantara hadits Abu Hurairah yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim sebanyak 325 hadits, dengan perincian oleh Bukhari sebanyak 93 hadits dan oleh muslim sebanyak 189 hadits. Semoga Allah membalas jasanya terhadap Islam dan muslimin dengan balasan yang sebaik-baiknya.
Sumber: Hidayah, ed 48 (diolah dari 1001 Sahabat Nabi, Hepi Andi Bastoni, pustaka al-Kautsar dan sumber-sumber lainnya)

Rohis Smansa
Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar dengan bijak, jangan pernah menggunakan kata kotor atau dan yang lainnya karena ALLAH selalu ada disamping kita